Sabtu, 01 Oktober 2016

Cerpen




Dia Tulus
Sudah satu minggu hujan turun setiap sore,dan untuk hari ini Lita mendapat shift sore-malam.Tata, sapaan akrabnya merupakan orang yang cuek tetapi ramah, cantik, baik, sopan dan solihah. Lita bekerja di sebuah mall di kota. Hari ini Lita agak kesal karena satu siff bersama Dido,Dido adalah cowok yang menyukai Lita sejak satu tahun lalu tetapi Lita tak pernah memperdulikan tentang perasaan Dido karena menurut Lita cowok dikota hanya menginginkan cewek yang cantik dan seksi dan tak jarang hal-hal tersebut menjerumus ke dalam hal-hal yang nyelewah seperti salah pergaulan bahkan hingga terjerumus ke dalam jurang narkoba,Lita sangat menghindari “Pacaran” selama bekerja di kota karena Ibu Lita berpesan untuk Lita tetap fokus mencari uang untuk biaya kuliahnya S2 jurusan Ekonomi, untuk itu Lita selalu menolak untuk menjalin hubungan kasih dengan cowok di kota agar Lita tetap fokus dan menjalankan amanah dari ibunya dan membuat ibunya bangga, keluarga Lita adalah keluarga yang sederhana, Lita memiliki satu adek laki-laki yang sekarang menginjak kelas dua belas SMA.
Tetapi entah kenapa Dido tetap mengejar-ngejar Lita, padahal Lita selalu cuek terhadap sikap Dido yang sering lebay saat menggoda Lita, seperti waktu malam valentine Dido memberi lita buket bunga 100 tangkai bunga mawar merah dan tertulis di kartu nya “I Love You Lita, berilah aku kesempatan untuk membuktikan cintaku kepadamu,dan tolong beri aku senyum mu setiap hari,karena senyum mu adalah nafasku” menurut Lita kata-kata Dido terlalu lebay dan membuat lita jijik.
Akhirnya siff Lita telah selesai dan itu tandanya Lita sudah dapat pulang kembali kerumah, setelah rampung berberes Lita segera memesan ojek online tetapi sungguh sial kerena ojek online tidak mau mengambil pesanan lita karena memang pada malam itu hujan turun sangat lebat, saat gagal memesan ojek online Lita terlihat sangat bingung karena malam sudar terlalu larut dan sudah tidak ada angkot dan taksi, Lita menengok kanan kiri berharap ada temannya yang lewat dan Lita dapat meminta tolong untuk nebeng sampai kost nya, dan saat menoleh Lita melihat Dido menatapnya, tanpa piker panjang Lita langsung berjalan meninggalkan tatapan Dido dan akhirnya Lita ketemu becak.
Tanpa piker panjang Lita langsung menaiki becak dan bilang ke tukang becak untuk mengantar Lita ke kostannya, hujan sungguh turun sangat lebat pada malam itu dan baru sekitar 15 menit Lita menaiki becak dan tiba-tiba “bruuuaaaaakkk.. Litaaaaa” setelah itu Lita tak mendengar apapun lagi dan semua berubah menjadi hitam. Saat terbangun Lita sangat pusing dan tak mengerti kenapa dia berada di rumah sakit dan Dido tertidur di samping tangan Lita.
“Do,Dido,kenapa aku bias disini? apa yang terjadi dan Do kenapa aku nggak bias merasakan kaki ku?” Dido hanya terdiam dan menatap mata Lita tanpa berkedip dan tak disangka air mata Dido menetes sembari Dido memegang jari jemari Lita, Dido berteriak memanggil dokter agar segera memeriksa Lita yang sudah 4 hari tidak sadarkan diri dan harus mendapat diagnosis yang sangat memilukan. Setelah diperiksa oleh dokter Lita kembali bertanya kepada Dido, apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dengan keadaan Lita.
Akhirnya Dido pun bercerita “kamu ingat saat malam dimana aku menatapmu dan kamu pergi menaiki becak ta?” “iya Do, apa yang terjadi selanjutnya setelah menaiki becak tak berselang lama aku mendengan suara bruk dan seseorang memanggil nama ku, ada apa Do segeralah cerita, please” “jadi Ta sesaat sesudah kamu naik becak aku ngikutin kamu dari belakang karena jujur malam itu perasaanku sungguh sangat khawatir setiap aku melihat matamu, akhirnya aku mengikutimu dan benar apa yang aku khawatirkan sesuatu terjadi Ta, kamu  kecelakaan sebuah mobil menabrak becakmu dan becakmu terguling hingga 10 meter dan..” Dido terdiam saat ingin memberi tahu keadaan Lita saat ini mengenai kakinya “Dan apa Do, buruan deh kamu cerita, nggakk usah drama gitu, aku kenapa? kenapa aku nggak bias ngrasain kaki ku? Aku pasti kesemutan kan karena tidur terlalu lama, buru deh kalo kamu nggak mau cerita mending panggil dokter aja biar aku dikasih obat penghilang kesemutan” saat Lita sedang berbicara Dido tau kalau Lita mengerti dengan keadaannya dan mencoba untuk berfikir seolah tak terjadi apa-apa terhadap diriny “kamu lumpuh Ta” sebenarnya Dido tak ingin memberitahu Lita tentang hal ini tetapi Lita harus tau, sontak suasana menjadi hening dan Lita melamun dengan air mata yang bercucuran dari matanya “keluar kamu Do, aku nggak mau kamu ngeliat aku kaya gini Do keluar kamu! Keluar! Keluar Do” mungkin Lita berfikir kalau Dido disana karena Dido kasihan kepada Lita karena Dido tahu benar kalo Lita sangat tidak suka dikasihani oleh siapa pun, tetapi nggak Dido menemani Lita bukan karena kasihan tetapi Dido tulus sayang dan cinta kepada Lita ”Nggak Ta aku nggak akan pergi, aku ingin bersama-sama terus sama kamu gimanapun keadaan mu gimana pun sikapmu sama aku, aku nggak perduli karena aku akan selalu bersama mu, aku sayang sama kamu Ta kapan kamu bisa mengerti” Lita terdiam dan menatap Dido “kamu baik Do,sopan,ganteng,pinter,soleh,kamu nggak seharusnya bersama sama aku yang sekarang aku cacat Do aku lumpuh” “Ta aku sayang sama kamu Tulus, bahkan aku ngggak perduli sama sikap kamu, aku jatuh cinta sama kamu sejak aku melihat kamu sholat di bawh escalator di pojokan, aku cinta sama kamu karena Allah ta, aku nggak mengharapkan apapun dari kamu kecuali kesolehanmu dan  keceriaanmu” Untuk itu akhirnya Lita sadar akan cinta Dodi yang tulus kepadanya tanpa melihat fisik Lita, dan selama ini Lita tak pernah menyadari itu,memang dari setiap cobaan yang diberikan oleh Allah kepada kita ada hikmah yang tersembunya dan terkadang kita harus memahami itu semua dengan sangat lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar