Dia
Tulus
Sudah satu minggu hujan turun
setiap sore,dan untuk hari ini Lita mendapat shift sore-malam.Tata, sapaan
akrabnya merupakan orang yang cuek tetapi ramah, cantik, baik, sopan dan
solihah. Lita bekerja di sebuah mall di kota. Hari ini Lita agak kesal karena
satu siff bersama Dido,Dido adalah cowok yang menyukai Lita sejak satu tahun
lalu tetapi Lita tak pernah memperdulikan
tentang perasaan Dido
karena menurut Lita cowok dikota hanya menginginkan cewek yang cantik dan seksi
dan tak jarang hal-hal tersebut menjerumus ke dalam hal-hal yang nyelewah
seperti salah pergaulan bahkan hingga terjerumus ke dalam jurang narkoba,Lita
sangat menghindari “Pacaran” selama bekerja di kota karena Ibu Lita berpesan
untuk Lita tetap fokus mencari uang untuk biaya kuliahnya S2 jurusan Ekonomi, untuk
itu Lita selalu menolak untuk menjalin hubungan kasih dengan cowok di kota agar
Lita tetap fokus dan menjalankan amanah dari ibunya dan membuat ibunya bangga, keluarga
Lita adalah keluarga yang sederhana, Lita memiliki satu adek laki-laki yang
sekarang menginjak kelas dua belas SMA.
Tetapi entah kenapa Dido tetap
mengejar-ngejar Lita, padahal Lita selalu cuek terhadap sikap Dido yang sering
lebay saat menggoda Lita, seperti waktu malam valentine Dido memberi lita buket
bunga 100 tangkai bunga mawar merah dan tertulis di kartu nya “I Love You Lita,
berilah aku kesempatan untuk membuktikan cintaku kepadamu,dan tolong beri aku
senyum mu setiap hari,karena senyum mu adalah nafasku” menurut Lita kata-kata
Dido terlalu lebay dan membuat lita jijik.
Akhirnya siff Lita telah selesai
dan itu tandanya Lita sudah dapat pulang kembali kerumah, setelah rampung
berberes Lita segera memesan ojek online tetapi sungguh sial kerena ojek online
tidak mau mengambil pesanan lita karena memang pada malam itu hujan turun
sangat lebat, saat gagal memesan ojek online Lita terlihat sangat bingung
karena malam sudar terlalu larut dan sudah tidak ada angkot dan taksi, Lita
menengok kanan kiri berharap ada temannya yang lewat dan Lita dapat meminta tolong
untuk nebeng sampai kost nya, dan saat menoleh Lita melihat Dido menatapnya, tanpa
piker panjang Lita langsung berjalan meninggalkan tatapan Dido dan akhirnya
Lita ketemu becak.
Tanpa piker panjang Lita langsung
menaiki becak dan bilang ke tukang becak untuk mengantar Lita ke kostannya, hujan
sungguh turun sangat lebat pada malam itu dan baru sekitar 15 menit Lita
menaiki becak dan tiba-tiba “bruuuaaaaakkk.. Litaaaaa” setelah itu Lita tak
mendengar apapun lagi dan semua berubah menjadi hitam. Saat terbangun Lita
sangat pusing dan tak mengerti kenapa dia berada di rumah sakit dan Dido
tertidur di samping tangan Lita.
“Do,Dido,kenapa aku bias disini? apa
yang terjadi dan Do kenapa aku nggak bias merasakan kaki ku?” Dido hanya
terdiam dan menatap mata Lita tanpa berkedip dan tak disangka air mata Dido
menetes sembari Dido memegang jari jemari Lita, Dido berteriak memanggil dokter
agar segera memeriksa Lita yang sudah 4 hari tidak sadarkan diri dan harus
mendapat diagnosis yang sangat memilukan. Setelah diperiksa oleh dokter Lita
kembali bertanya kepada Dido, apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dengan
keadaan Lita.
Akhirnya Dido pun bercerita “kamu
ingat saat malam dimana aku menatapmu dan kamu pergi menaiki becak ta?” “iya
Do, apa yang terjadi selanjutnya setelah menaiki becak tak berselang lama aku
mendengan suara bruk dan seseorang memanggil nama ku, ada apa Do segeralah
cerita, please” “jadi Ta sesaat sesudah kamu naik becak aku ngikutin kamu dari
belakang karena jujur malam itu perasaanku sungguh sangat khawatir setiap aku
melihat matamu, akhirnya aku mengikutimu dan benar apa yang aku khawatirkan
sesuatu terjadi Ta, kamu kecelakaan
sebuah mobil menabrak becakmu dan becakmu terguling hingga 10 meter dan..” Dido
terdiam saat ingin memberi tahu keadaan Lita saat ini mengenai kakinya “Dan apa
Do, buruan deh kamu cerita, nggakk usah drama gitu, aku kenapa? kenapa aku
nggak bias ngrasain kaki ku? Aku pasti kesemutan kan karena tidur terlalu lama,
buru deh kalo kamu nggak mau cerita mending panggil dokter aja biar aku dikasih
obat penghilang kesemutan” saat Lita sedang berbicara Dido tau kalau Lita
mengerti dengan keadaannya dan mencoba untuk berfikir seolah tak terjadi
apa-apa terhadap diriny “kamu lumpuh Ta” sebenarnya Dido tak ingin memberitahu
Lita tentang hal ini tetapi Lita harus tau, sontak suasana menjadi hening dan
Lita melamun dengan air mata yang bercucuran dari matanya “keluar kamu Do, aku
nggak mau kamu ngeliat aku kaya gini Do keluar kamu! Keluar! Keluar Do” mungkin
Lita berfikir kalau Dido disana karena Dido kasihan kepada Lita karena Dido
tahu benar kalo Lita sangat tidak suka dikasihani oleh siapa pun, tetapi nggak
Dido menemani Lita bukan karena kasihan tetapi Dido tulus sayang dan cinta
kepada Lita ”Nggak Ta aku nggak akan pergi, aku ingin bersama-sama terus sama
kamu gimanapun keadaan mu gimana pun sikapmu sama aku, aku nggak perduli karena
aku akan selalu bersama mu, aku sayang sama kamu Ta kapan kamu bisa mengerti”
Lita terdiam dan menatap Dido “kamu baik Do,sopan,ganteng,pinter,soleh,kamu nggak
seharusnya bersama sama aku yang sekarang aku cacat Do aku lumpuh” “Ta aku
sayang sama kamu Tulus, bahkan aku ngggak perduli sama sikap kamu, aku jatuh
cinta sama kamu sejak aku melihat kamu sholat di bawh escalator di pojokan, aku
cinta sama kamu karena Allah ta, aku nggak mengharapkan apapun dari kamu
kecuali kesolehanmu dan keceriaanmu”
Untuk itu akhirnya Lita sadar akan cinta Dodi yang tulus kepadanya tanpa
melihat fisik Lita, dan selama ini Lita tak pernah menyadari itu,memang dari
setiap cobaan yang diberikan oleh Allah kepada kita ada hikmah yang tersembunya
dan terkadang kita harus memahami itu semua dengan sangat lama.